TipsEfektif Belajar Bahasa Inggris untuk Kuliah Ke Luar Negeri #1. Hafalkan Kalimat #2. Awali dengan Hal yang Bikin Kamu Nyaman #3. Perhatikan Pengucapan #4. Ada Banyak Aksen Bahasa Inggris Siap Kuliah di Luar Negeri? Bahasa Inggris Membuka Ribuan Peluang Baru Hampir semua informasi penting dalam dunia akademis disajikan dalam bahasa Inggris. Eits nggak cuma itu, berikut tips berdasarkan pengalaman saya menjadi pendamping hidup seorang mahasiswa yang mendapat beasiswa ke luar negeri: Daftar Isi #1 Luruskan niat #2 Belajar untuk lebih memahami diri sendiri sekaligus pasangan #3 Tidak pernah menyuruh untuk mengerjakan disertasi 84uRKXn. Berangkat Ke Melbourne Pada pertengahan tahun 2014, saya diizinkan Allah SWT untuk mengambil Cuti di Luar Tanggungan Negara CLTN. Cuti ini saya ambil karena keinginan pribadi untuk mendampingi suami yang mendapatkan kesempatan kuliah S-3 di Australia atas beasiswa dari Australian Award Scholarship AAS. Cuti jenis ini jarang diambil karena implikasinya berat. Seperti yang saya alami, seorang ASN yang mengambil CLTN tidak akan mendapatkan gaji, tunjangan, dan masa kerja selama CTLN tidak akan dihitung. Masa kerja saya yang seharusnya 21 tahun dan mendapatkan penghargaan Satya Lencana Karya Satya 20 tahun, baru akan saya terima 3 tahun lagi. Yang paling berat, selama cuti, tidak ada SMS Cinta dari 3355 bagi pengguna rekening Mandiri pasti tahu isinya. Pada umumnya ASN mengambil CLTN karena mengikuti suami/istrinya yang kuliah di luar negeri. Namun, ada juga ASN yang mengambil cuti jenis ini karena ingin merawat orang tua atau anak yang sedang sakit. Ada juga yang menjadikannya sebagai kesempatan untuk bekerja di lembaga lain umumnya lembaga multinasional, memulai berbisnis, atau alasan lainnya sepanjang disetujui oleh instansi tempatnya bernaung. Bagi ASN yang sudah menduduki jabatan, maka konsekuensi dari pengambilan CLTN adalah kehilangan jabatan. Padahal, saat itu saya sudah menduduki jabatan kepala kantor. Ketika kembali aktif maka akan memulai lagi dengan posisi pelaksana. Akankah bisa kembali ke jabatan semula? Saya berserah diri pada Allah SWT. Prosedur pengajuan CLTN yang saya lakukan adalah sebagai berikut Membuat surat permohonan cuti dilengkapi dengan dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Alasan CLTN yang saya ajukan adalah mengikuti suami yang studi di Victoria University, Melbourne. Dokumen yang saya sampaikan adalah surat bahwa dia diterima kuliah Letter of Acceptance. Surat permohonan cuti diajukan ke pejabat yang menangani kepegawaian. Di lingkungan kerja saya pejabatnya adalah Sekretaris Badan. Surat ini kemudian disampaikan ke Badan Kepegawaian Negara BKN melalui Biro SDM kementerian. Surat CLTN diproses oleh BKN dan akhirnya nota persetujuan disampaikan kepada Kementerian Keuangan. Kementerian Keuangan mengeluarkan surat yang menyatakan bahwa saya sedang melaksanakan CLTN untuk periode tertentu sesuai dengan masa studi suami. Setelah izin cuti keluar, maka saya pun terbang ke Melbourne untuk menyusul suami yang sudah berangkat 4 bulan sebelumnya. Alhamdulillah, untuk keperluan pembuatan visa untuk masuk ke Australia ditangani langsung oleh perwakilan AAS di Jakarta. Aktivitas Keseharian di Melbourne Selama melaksanakan cuti, saya tinggal di Melbourne mengurus anak-anak dan suami selama 24 jam tanpa pembantu. Saya sangat menikmati cuti ini karena selama ini semua urusan anak-anak saya serahkan ke asisten rumah tangga. Jarang sekali saya ikut mempersiapkan sarapan dan bekal mereka ke sekolah. Di Melbourne saya harus menyiapkan sarapan di pagi hari, bekal makan siang, dan juga makan malam untuk keluarga. Untunglah sekolah anak-anak dimulai jam 9 pagi sehingga saya masih bisa menyiapkan sarapan dan bekal untuk anak-anak di sekolah. Sampai 6 bulan, saya benar-benar menikmati suasana cuti. Saya mengantar anak ke sekolah di pagi hari, lanjut berbelanja ke pasar, berbenah rumah dan memasak makan siang, lalu kembali menjemput anak. Kadang setelah mengantar anak, berdua dengan suami, saya berjalan-jalan ke pantai atau hanya berkeliling di taman-taman sekitar rumah atau sekolah anak. Kadang kala kami berdua pergi ke tempat teman di suburb lain. Kursus Bahasa Inggris Namun, karena terbiasa dengan aktivitas di kantor seharian penuh, saya mulai kangen dengan beragam aktivitas dari pagi hingga sore. Saya pun mulai mengikuti kursus bahasa Inggris di VU English. Suami saya adalah penerima awardee beasiswa AAS Australian Award Scholarship sehingga spouse pasangan awardee berhak mengikuti perkuliahan bahasa Inggris selama 5 minggu penuh. Setelah selesai dengan kegiatan kursus bahasa Inggris maka saya memberanikan diri untuk mengambil Certificate III in early childhood education. Sebagai seorang temporary resident, saya harus membayar penuh biaya kursus ini yang mencapai A$750, terdiri atas tuition fee A$700 dan registrasi sebesar A$50. Bagi permanent resident, mereka hanya diharuskan membayar biaya registrasi $50, tetapi biaya kursus gratis ini hanya berlaku bagi kursus yang pertama. Jika permanent resident itu mengambil kursus yang kedua dan seterusnya, mereka juga harus membayar penuh. Kursus diikuti bersama para permanent resident yang berasal dari berbagai bangsa. Ada Divya yang orang India, Bouakham dari Laos, Skye yang orang asli Australia, Sarita yang baru migrasi dari Pakistan, dan Grace perempuan Filipina yang baru saja menikah dengan bule Australia. Rupanya keberagaman budaya peserta menjadikan kami diminta untuk mempertunjukkan di depan kelas atau membawa makanan khas dari negara masing-masing. Pada saat diminta mempertunjukkan lagu anak-anak Indonesia, saya membawakan lagu Pelangi karya AT Mahmud. Enam bulan berlalu dan saya pun akhirnya mendapatkan sertifikat. Sebenarnya dengan sertifikat itu, saya bisa bekerja membuka bisnis daycare di rumah dan mendapatkan penghasilan yang melebihi jumlah uang beasiswa yang diterima suami saya. Namun karena sifat bisnis ini yang full-day dan saya dalam mode liburan, maka saya tidak menggunakan kesempatan itu. Bekerja di Vicmart Untuk mengisi waktu, saya mencoba bekerja di Queen Victoria Market Vicmart sebagai penjaga toko. Saya bekerja 3 hari dalam seminggu dari jam Bos saya adalah seorang perempuan Vietnam yang baik hati bernama Lily. Bagaimana ceritanya saya bisa bekerja di Pasar Vicmart? Tetangga saya dimintai tolong oleh Lily untuk mencarikan teman Indonesia yang bisa menjaga tokonya. Kenapa mesti orang Indonesia? Rupanya para pedagang di Vicmart sangat senang karakter orang Indonesia yang mereka percayai untuk menjaga tokonya. Orang Indonesia dinilai bekerja dengan hati, rendah hati, dan jujur. Mereka membutuhkan tiga karakter ini karena penjaga toko akan memegang uang minimal $ per hari. Para pemilik toko tidak pernah menghitung jumlah barang yang terjual untuk satu hari karena mereka percaya para pegawainya yang orang Indonesia tidak akan mengambil sedolar pun uang yang dipegang dari hasil aktivitas jual-beli. Karakter inilah yang harus terus dipertahankan oleh orang Indonesia jika ingin orang Indonesia berikutnya mudah mendapatkan kerja di pasar Vicmart. Bekerja di Vicmart menambah pergaulan saya dengan para pemilik toko di sana. Ada yang berasal dari Thailand, Skotlandia, Italia, juga China. Mereka semua sangat baik dan ramah. Jika saya tidak jaga toko satu hari saja, mereka akan menanyakan kenapa kemarin nggak masuk. Bahkan, terkadang mereka membagi makanan yang dibawa. Biasanya berupa kue-kue. Bisnis Tempe Kecil-Kecilan Selain bekerja di pasar, saya juga membuat dan menjual tempe segar. Ada cerita ketidakpuasan yang menjadi alasan saya mempelajari cara pembuatan tempe dan setelah berhasil saya menjual tempe segar. Setelah beberapa minggu hidup di Melbourne, saya kangen makan tempe. Atas informasi dari teman, saya menemukan tempe beku frozen di toko vegetarian. Saya baca labelnya, tempe beku itu buatan Malaysia. Lalu saya memperkirakan bahwa tempe tersebut dibuat berbulan-bulan sebelum saya beli. Juga rasanya terbilang aneh, tidak seperti rasa tempe yang biasa kita beli di Indonesia. Mulailah saya dan suami googling tentang pembuatan tempe. Beberapa kali mencoba, akhirnya tempe pun jadi. Ragi pun kami impor dari Surabaya, sementara kedelainya kami pakai kedelai lokal Australia. Tempe percobaan pun jadilah. Kami kemudian meng-upload-nya di WAG. Tak disangka langsung banyak pesanan dari tetangga sekitar rumah. Dari mulut ke mulut akhirnya kemampuan saya membuat tempe segar didengar orang dan banyak teman dititipi oleh teman-temannya yang di luar wilayah saya. Akhirnya tempe segar ini bisa dinikmati oleh warga Melbourne karena saya posting di media sosial. Sambutan orang-orang Indonesia dengan adanya tempe segar ini bermacam-macam. Ada yang bilang senang banget sampai ada yang menciumi tempe tersebut, sampai saya juga akhirnya mbrebes mili terharu. Bahkan ada orang-orang Indonesia yang tinggalnya di luar kota Melbourne sampai memesan seminggu sebelumnya, supaya ketika mereka ke Melbourne, tempenya sudah jadi. Selain menjual tempe segar, saya juga membuat tempe mendoan, dan kering tempe. Artinya, saya memikirkan diversifikasi produk untuk menambah nilai jual. Di situlah saya memahami bahwa untuk menambah nilai jual sebuah produk ada upaya pengolahan dan bahan baku lain yang menyertai. Upaya inilah yang akhirnya menyebabkan harga jual lebih tinggi dibandingkan masih berbentuk tempe. Dari berjualan tempe akhirnya saya banyak mengenal warga Indonesia lainnya yang tinggal di Melbourne. Sampai sekarang pun kami masih kontak baik melalui WA ataupun medsos. Biasanya saya dan pembeli janjian bertemu di Melbourne Central Station pada jam tertentu. Untuk pembayaran, pembeli mentransfer uangnya ke rekening suami karena saya tidak punya rekening Australia. Begitulah hari-hari saya di Melbourne, hingga tak terasa waktu 3 tahun pun berlalu dengan cepat. Sebuah pengalaman manis yang tak akan saya lupakan. Pertengahan 2017 saya kembali ke Jakarta, berdua saja dengan si bungsu. Sementara si sulung masih tinggal di Melbourne untuk menyelesaikan kelas 7, menemani bapaknya yang studinya diperpanjang karena ketiadaan supervisor.*** - Arumi Bachsin rela meninggalkan dunia keartisan usai menikah dengan Emil Dardak. Kini ia pun menikmati kegiatannya menjadi seorang Ibu dan istri dari pejabat daerah. Emil Dardak, diketahui saat ini menjabat sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur sejak 13 Februari 2019. • Istri Marcell Darwin Bagikan Potret Maternity 9 Bulan, Beri Respon saat Dikomentari Terlalu Vulgar • Pemeran Tisna Mengundurkan Diri Tinggalkan Ojak dan Pur di Tukang Ojek Pengkolan, Begini Rating TOP Karier Emil Dardak di politik terbilang moncer sejak menikahi Arumi Bachsin. Arumi Bachsin dan Emil Dardak Sebelum jadi Wagub, Emil pernah menjabat sebagai Bupati Trenggalek sejak 17 Februari 2016 hingga 12 Februari 2019. Emil sendiri bukanlah pria yang berasal dari keluarga sembarangan. Emil merupakan cucu H. Mochamad Dardak, salah satu kyai Nahdlatul Ulama. Ayahnya adalah Hermanto Dardak, Wakil Menteri Pekerjaan Umum periode tahun 2010-2014. Sementara ibunya bernama Sri Widayati. Dari sang ibu mengalir darah Letjen Anumerta Wiloejo Poespojudo, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional pertama di era Presiden Soekarno. Pada tanggal 30 Agustus 2013, Emil menikahi artis Arumi Bachsin di Rumah Maroko, Menteng, Jakarta Pusat. Dari pernikahannya tersebut, Emil dikaruniai anak perempuan yang diberi nama Lakeisha Ariestia Dardak, dan anak laki-laki yang diberi nama Alkeinan Mahsyir Putro Dardak. Sebelum terjun ke dunia politik Emil Dardak memiliki banyak prestasi dan bekerja di World Bank Officer di Jakarta, dan Media Analysis Consultant di Ogilvy. Puncak karier Emil dicapai saat didaulat menjadi Chief Business Development and Communication-Executive Vice President di PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia Persero. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Ada banyak alasan yang menyebabkan satu keluarga harus mengalami relokasi, baik ke lain kota maupun negara yang berbeda. Dari banyak alasan, dua yang paling lazim adalah tuntutan pekerjaan dan studi salah satu pasangan atau keduanya. Seringkali istri atau suami haru menginggalkan karirnya untuk mendukung pasangannya. Bagi saya, berat untuk meninggalkan karir yang telah dibangun lama di Indonesia dan memulai hidup yang baru di negeri orang. Pemikiran bahwa saya akan kehilangan keterampilan bekerja atau menjadi tidak produktif lagi cukup menakutkan, dan saya pikir saya tidak sendiri dalam hal ini. Melalui tulisan ini saya ingin berbagi tips untuk para istri atau suami, yang dengan setia menemani pasangannya belajar / bertugas, agar tetap produktif di tempat baru. Dengan tetap produktif, maka hidup pun menjadi lebih bersemangat dan dapat lebih membawa manfaat bagi orang lain. Sebelum menikah, saya dan suami sepakat bahwa kami akan saling mendukung satu sama lain dalam berkarya dan bahwasannya kami adalah satu tim untuk mencapai tujuan yang sama. Jadi ketika kami tau bahwa suami akan ditugaskan untuk studi di mancanegara, maka kami pun sudah merencanakan apa yang akan saya lakukan ketika mendampingi suami. Tapi itu dulu sebelum kami berangkat... Tentu saja, seperti hal-hal lain yang sudah direncanakan, perubahan datang tak diduga. Masa studi suami yang diperkirakan hanya akan berlangsung selama satu setengah tahun ternyata diperpanjang karena dilanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Di satu sisi kami bersyukur karena kesempatan ini merupakan tanggung jawab sekaligus hak istimewa, di sisi lain saya harus memikirkan kegiatan yang dapat saya lakukan di beberapa tahun berikutya. Setelah melalui masa berpikir keras tetang apa yang saja yang ingin saya lakukan dan mulai melakukannnya, akhirnya saya muai terbiasa dengan ritme hidup saya yang baru. Berikut ini saya ingin berbagi ide tentang lima aktifitas yang telah, sedang dan mungkin akan saya lakukan selama mendampingi suami. 1. Sekolah lagi. Sebelum berangkat, saya dan suami sudah sama-sama melamar ke beberapa universitas di negara yang sama. Akhirnya kami sama-sama diterima tetapi di dua negara bagian yang berbeda. Alhasil, kami harus tinggal berjauhan selama masa studi kami. Class of 2010 Memang tidak semua pasangan dapat melakukan hal ini, terutama jika sudah dikaruniai anak. Kebetulan kami masih berdua saja selama studi berlangsung. Di lain sisi, saya mengetahui ada beberapa pasangan lain yang sudah memiliki anak tapi dua-duanya bisa bersekolah lagi. Jadi, adanya anak bukan menjadi halangan, hanya dituntut untuk kerja lebih keras pastinya. Selain kuliah dalam bentuk formal, ada banyak program sertifikasi yang bisa ditempuh yang tentunya lebih flexible dan terjangkau. Sertifikat ini tentu akan memberi nilai tambah pada resume jika kelak akan kembali bekerja di Indonesia. 2. Menulis. Seringkali kuliah bukan merupakan pilihan karena biaya beasiswa tidak selalu tersedia dan anak yang membutuhkan perhatian penuh. Perlu diingat, bahwa pilihan untuk merawat anak sepenuhnya tanpa bantuan day-care adalah pilihan yang mulia dan masih banyak kegiatan yang bisa dilakukan bersamaan dengan pilihan ini. Salah satu aktifitas yang bisa dilakukan adalah menulis! Mengapa menulis? Proyek sederhana menulis buku profil beasiswa yang membiayai studi saya di Boston - Berbagi pemikiran dan ilmu. Tulisan adalah salah satu bentuk media pendidikan. Tulisan yang baik dapat terus mempengaruhi dan mengubah hidup pembacanya sekalipun penulisnya telah lama tiada contohnya Paulo Freire, Lewis, Pramoedya Ananta Toer, dan masih banyak lagi. Hampir semua istri atau suami yang saya kenal dan sedang mendampingi pasangannya hidup di mancanegara adalah seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi di bidangnya masing-masing. Menurut saya, latar belakang pendidikan yang kita mliki tidak hanya berfungsi untuk memberikan pilihan hidup yang lebih baik tapi yang terutama diikuti dengan tanggung jawab untuk berbagi. Saya setuju dengan Marian Wright Edelman, pendiri organisasi Children's Defense Fund, yang mengatakan bahwa "education is for improving the lives of others and for leaving your community and world better than you found it." Jadi, melalui tulisan, kita yang sudah menikmati pendidikan, dapat memenuhi amanat untuk berbagi dan membuat dunia ini lebih baik dari sebelumnya. - Mengasah keterampilan berpikir. Saya bangga sekali menjadi orang Indonesia. Namun saya juga mengakui ada banyak kelemahan masyarakat Indonesia yang salah satunya adalah mudah termakan issue dan hasutan baca provokasi. Warisan budaya menghafal dalam sistem pendidikan Indonesia menghasilkan lulusan yang kurang pandai berpikir mandiri dan mudah termakan omongan orang lain. Berpikir adalah sebuah keterampilan yang harus diasah. Dengan menulis, seseorang dilatih untuk berpikir secara sistematis dalam rangka membuat tulisannya mudah diikuti, membangun argumen yang didukung oleh bukti dan berbagai pemikiran yang sudah ada, dan merefleksikan atau meninjau kembali pemikirannya berulang kali untuk melihat kesahihannya. Maka tidak heran jika seorang penulis yang baik biasanya akan menjadi seorang pembicara yang baik karena ia terbiasa berargumen dan berpikir dalam tulisannya. - Mewarisi kebiasaan yang baik kepada generasi penerus. Ada satu pengajaran bijaksana yang mengatakan bahwa anak-anak kita belajar lebih banyak dari melihat perbuatan kita daripada dari mendengar perkataan kita. Alangkah indahnya jika Indonesia dipenuhi oleh generasi produktif yang gemar berpikir dan menghasilkan karya. Namun, tidak ada generasi yang dapat menjadi produktif tanpa gemar membaca dan menulis; dan jika ingin membangun suatu generasi yang gemar membaca dan menulis, maka tidak ada cara yang lebih baik daripada dengan menjadi teladan dalam membaca dan menulis. 3. Belajar bahasa dan budaya. Bukan rahasia bahwa kunci kesuksesan belajar bahasa asing adalah praktik yang terus menerus dan sebisa mungkin berlatih dengan native speaker. Nah, dengan tinggal di negara asing kesempatan untuk melakukan hal tersebut berlimpah ruah Tidak ada kesempatan belajar yang lebih baik dari tinggal di negara asal sang native speaker. Jika seseorang memiliki minat belajar yang tinggi dan ingin belajar lebih dari satu bahasa asing, maka tidak sulit untuk melakukannya. Contohnya saya yang saat ini tinggal di Amerika memiliki akses untuk belajar bahasa Spanyol, Cina, Jepang, dll, dengan biaya yang terjangkau. Di kota tempat saya tinggal terdapat berbagai lembaga yang menyediakan jasa belajar bahasa asing dengan biaya minimum, seperti Davis Adult School dan International House Davis lembaga nirlaba yang mempromosikan interaksi dan pertukaran lintas budaya. Perayaan Tahun Baru Cina di kompleks apartment Hal yang sama juga berlaku jika ingin belajar berbagai budaya bangsa lain. Kebetulan saya dan keluarga tinggal di Student Housing, yaitu kompleks apartment khusus untuk mahasiswa paskasarjana yang sudah berkeluarga. Kompleks ini ditinggali oleh keluarga mahasiswa dari berbagai negara dan memiliki asosiasi yang cukup aktif mengadakan kegiatan bagi warganya, seperti kegiatan memasak bersama, perayaan Tahun Baru Cina, Pizza Night, dll. Alhasil saya bertemu dengan keluarga-keluarga dari berbagai negara dan dapat belajar sedikit-sedikit mengenai budaya dan kebiasaan mereka. Biasanya kesempatan belajar budaya ini dapat ditemui di lingkungan tempat tinggal, di sekolah anak / melalu teman sekolah suami, institusi keagamaan, atau organisasi lain yang kita pilih untuk menjadi bagian di dalamnya. Jangan lupa siapkan souvenir kecil tentang Indonesia sambil promosi negara tercinta . 4. Belajar berbagai keterampilan. Belajar masakan Italia Teman-teman 'seperjuangan' saya banyak sekali yang aktif belajar keterampilan baru selama mendampingi pasangannya. Mulai dari belajar seni scrapbook, quilting, memasak, dan masih banyak lagi. Lebih hebatnya lagi, setelah kembali ke tanah air mereka menggunakan keterampilan barunya untuk dibagikan ke orang lain. 5. Volunteer, magang atau bekerja. Kesempatan magang atau bekerja seorang pendamping pelajar seperti saya sangat tergantung pada jenis visa yang saya miliki. Kalau status pasangan saya F1, maka saya akan menggunakan F2. Jika pasangan saya menggunakan J1, maka saya akan menggunakan visa J2. Beda yang paling nyata antara kedua visa tersebut adalah jika saya menggunakan visa J2 maka saya dapat bekerja atau magang selama masa tinggal. Perbedaan lebih lengkap mengenai kelebihan dan masing-masing bisa dilihat di dua laman berikut F2 dan J2. Tentunya penjelasan ini sangat terbatas untuk negara Amerika karena saat ini saya berdomisili di Amerika. Salah satu kegiatan kelompok ketika magang di sebuah NGO di Boston Satu dari tiga hal yang saya sebutkan pada poin ini dapat dilakukan tanpa tergantung pada visa yang dimiliki adalah volunteer atau kerja suka rela. Ada banyak lembaga kemanusiaan atau nirlaba di negara tujuan yang terbuka untuk menerima volunteer. Walaupun tidak menerima bayaran, tapi kegiatan volunteer ini bernilai lebih dari sekedar uang. Pertama, dengan volunteer seseorang memenuhi hakikatnya sebagai manusia untuk saling menolong satu sama lain. Kedua, seseorang akan dapat banyak pelajaran berharga mengenai tata kelola suatu organisasi, menambah teman, mengasah keterampilan sosial dan bahasa, dan kalaupun tidak ada manfaat lain setidaknya satu hal saya jamin pasti didapat, yaitu kesenangan murni dari membagi hidup dengan orang lain. Lima poin di atas hanya sebagian kecil dari kegiatan yang bisa dilakukan. Tidak banyak orang Indonesia yang memiliki kesempatan merasakan tinggal di negeri orang. Alangkah baiknya jika kesempatan tersebut bisa dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mengembangkan diri dan kemudian membagikan ilmu yang didapat dengan orang lain. Lihat Lyfe Selengkapnya Siapapun pasti ingin selalu bersama dan dekat dengan keluarga. Tak terkecuali mahasiswa berkeluarga yang melanjutkan kuliah ke luar negeri seperti saya. Dengan beragam alasan kuat, keputusan untuk membawa keluarga ke luar negeri agar bisa hidup bersama pun kami ambil. Studi ke Luar Negeri Bersama Keluarga Meskipun memerlukan beragam pertimbangan, akhirnya kami sekeluarga memutuskan untuk tinggal bersama di Turki. Saya, istri serta anak kami sekarang tinggal di Kota Konya Turki tempat saya melanjutkan studi doktoral sekarang. Keputusan untuk Membawa Keluarga untuk Kuliah ke Luar Negeri Saya mendapatkan beasiswa S3 dari Pemerintah Turki. Beasiswa ini mencakup biaya seluruh pendidikan, uang saku, tempat tinggal dan beragam fasilitas lainnya. Saya akan menempuh studi kurang lebih 5 tahun. Saya berangkat ke Turki pada tahun 2016. Waktu itu saya resign sebagai guru di sekolah swasta, tempat istri saya juga mengabdi sebagai guru. Setelah saya menyelesaikan pendidikan bahasa Turki selama 8 bulan, saya pun pulang untuk menjemput anak dan istri untuk tinggal bersama mereka. Keputusan ini kami ambil mengingat kalau istri sekolah, anak di rumah sendiri pun juga tak enak sama keluarga mertua. Afqa Bermain Salju di Depan Rumah Disamping itu, istri juga pulang pergi ke sekolah yang jaraknya cukup jauh. Keputusan untuk membawa keluarga untuk bisa tinggal bersama saat melanjutkan kuliah pun menjadi keputusan yang tepat. Lagi pula, sebelum mendaftar beasiswa ini, saya telah menelaah, dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan mengenai apakah mungkin membawa keluarga saat studi. Intinya dari awal saya mendaftar kuliah ke luar negeri saya sudah mempersiapkan dan memikirkan secara matang mengenai bagaimana membawa keluarga dan hidup bersama. Pertimbangan Penting Sebelum Membawa Keluarga ke Luar Negeri Hal paling penting sebelum memutuskan untuk membawa keluarga tinggal bersama saat studi di luar negeri adalah 1. Kecukupan Uang Saku Faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan dalam membawa keluarga saat kuliah di luar negeri adalah faktor biaya. Pastikan uang studi, beasiswa atau sumber keuangan untuk kuliah tersebut bisa cukup digunakan untuk biaya hidup keluarga. Arti cukup disini berarti cukup untuk hidup sehari-hari, biaya makan, sewa rumah, biaya listrik, air, internet, gas, transportasi dan kebutuhan lainnya. Untuk biaya tahunan, biasanya ada biaya asuransi, biaya perpanjang ijin tinggal, dan rincian lainnya. Biaya yang tak kalah penting adalah akomodasi dan hiburan, misalnya untuk sekedar jalan-jalan atau sesekali makan di tempat yang menyenangkan seperti pusat kota. Foto di samping Altındağ Camii Ankara Turki Jangan lupa untuk memperhitungkan studi atau sekolah anak jika sudah waktunya. Beberapa negara menggratiskan studi bagi anak, namun ada juga yang berbayar. Pikirkan secara matang dan hitung keuangan apakah cukup untuk memenuhi kebutuan tersebut. Jika dirasa sudah cukup, maka tinggal memutuskan. Jika dirasa kurang cukup, maka cari jalan keluarnya. Kalau mau beruaha InsyaAllah pasti ada jalan. 2. Keadaan Anggota Keluarga Biasanya faktor yang menghambat untuk membawa keluarga kuliah di luar negeri adalah keadaan anggota keluarga. Biasanya si istri sibuk dalam pekerjaan, mendapatkan pekerjaan atau tugas yang tidak bisa ditinggalkan. Bisa jadi suami atau istri adalah pegawai negeri, atau memiliki tanggungjawab yang tak bisa ditinggalkan. Misalnya lagi ada orang tua yang harus ditemani. Waktu itu saya dan istri juga sempat memikirkan hal ini, mengingat istri juga sudah bekerja sebagai guru. Namun karena pertimbangan untuk tinggal bersama lebih kuat, jadi akhirnya kita memutuskan untuk tinggal bersama. 3. Rencana Kegiatan Saat Berada di Luar Negeri Hal ini penting karena bisa jadi negara tempat kita studi jauh dari kampung asal. Jadi kita bersama keluarga bakalan tinggal lama di luar negeri. Perlu kita pikirkan juga kegiatan saat berada di luar negeri untuk suami atau istri yang mendampingi, agar tidak jenuh atau mengalami homesickness. Saat istri dan anak sudah tinggal bersama saya di Turki, saya mencarikan les bahasa Turki untuk istri. Juga guru mengaji al-Quran karena istri saya hafal al-Quran. Butuh guru yang bisa dijadikan untuk mengulang-ulang hafalan. Untuk anak juga jangan lupa. Jika sudah saatnya sekolah, hendaknya dicarikan sekolah agar bisa mengikuti pendidikan sesuai usianya di luar negeri. Menjemput Keluarga Dan Kembali ke Luar Negeri Setelah sepakat dan setuju dengan keputusan untuk kuliah bersama keluarga di luar negeri, saya pun pulang ke Indonesia pada tahun 2017 untuk menjemput keluarga. Di Indonesia saya mempersiapkan beragam hal penting meliputi 1. Dokumen-dokumen Mempersiapkan dokumen-dokumen yang menjadi persyaratan untuk tinggal di luar negeri, mulai visa, akta nikah, kelahiran dan beragam dokumen penting lainnya. Semua dokumen tersebut dikumpulkan, dilist dan kami bawa semua. 2. Obat-obatan Jangan lupa untuk melengkapi obat yang menjadi kebutuhan keluarga di luar negeri. Kalau anak butuh vaksin hendaknya dilengkapi dahulu. Juga konsultasi dengan dokter bila perlu. Untuk anak, beberapa obat yang mungkin harus dibawa adalah paracetamol, obat flu dan batuk, obat cacing, vitamin dan penambah nafsu makan. Juga bisa membawa obat kompres untuk panas anak. Untuk anggota keluarga dewasa, bisa membawa obat flu dan batuk, obat masuk angin, obat gosok cair, obat mabuk perjalanan, obat panas dalam. Penting untuk membawa obat sesuai penyakit jika anggota keluarga memiliki penyakit tertentu, misalnya maag atau mudah mencret. 3. Barang atau Makanan Makanan di luar negeri tempat untuk studi bisa jadi berbeda dengan makanan Indonesia. Membawa makanan kesukaan dari Indonesia adalah langkah tepat untuk bisa beradaptasi dengan makanan di luar negeri. Bisa jadi anda suka sambal, mie instan, bumbu-bumbu, dan lain sebagainya. 4. Persyaratan dan Prosedur untuk Tinggal di Luar Negeri Misalnya pembuatan visa yang membutuhkan beragam dokumen identitas, juga dokumen buku bank, ittenary tiket, asuransi perjalanan, dan beragam persyaratan lainnya. Hal ini berguna untuk proses ijin tinggal di Turki untuk keluarga. Setelah Tiba Di Luar Negeri Segera urus kewajiban-kewajiban penting yang menyangkut ijin tinggal atau kebutuhan tinggal bersama keluarga di luar negeri. Berikut rincian hal yang saya lakukan setelah membawa keluarga di Turki 1. Lapor diri ke KBRI Bisa dibilang wajib hukumnya bagi orang Indonesia yang tinggal di luar negeri untuk lapor diri ke Kedubes RI. Hal ini berguna jika terjadi hal-hal darurat, pihak Kedubes bisa bertindak dengan menghubungi keluarga, atau melakukan tindakan-tindakan bantuan tertentu. 2. Mengurus Ijin Tinggal Ijin tinggal di Turki harus dilakukan sebelum visa habis. Setelah mengurus ijin tinggal akan diberi kartu Ikamet atau kartu ijin tinggal dengan tenggang waktu sesuai tertentu. 3. Kenalkan Keluarga Dengan Penduduk Indonesia Di Luar Negeri Biasanya ada perkumpulan penduduk Indonesia atau pelajar di Indonesia di luar negeri. Dan pastinya akan ada kegiatan kumpul bareng. Di situlah saya mengenalkan keluarga kepada para teman diluar negeri karena kita adalah satu keluarga besar penduduk Indonesia yang tinggal di Turki. Tempat tinggal kami di Konya saat ini, ada kurang lebih 30 pelajar Indonesia. Juga ada orang Indonesia yang menikah dengan orang Turki. Setiap beberapa waktu kami mengadakan acara, kumpul bersama dan makan-makan. Kami juga punya kegiatan sendiri yang tergabung dalam masyarakat Nahdlatul Ulama di Turki. Setiap bulan kita mengadakan kegiatan rutin dengan kumpul bersama di rumah, masak-masak, ngobrol dan ramah tamah. Itulah beberapa pengalaman tentang membawa keluarga untuk tinggal bersama saat melanjutkan studi ke luar negeri. Jika ada pertanyaan silahkan tulis di kolom komentar. Demi bisa berkumpul dengan suami yang bertugas di New York, saya dan janin dalam kandungan berjuang untuk mendapatkan beasiswaOleh Lusia NS 29 tahun, Ibu dari Shena 4 bulan, Member WAG Orami Newborn Moms dan Orami Working MomsKehamilan pertama saya ini benar-benar pengalaman yang luar biasa dan tidak bisa digambarkan dengan tidak luar biasa? Ketika menjalani kehamilan, saya harus terpisah jauh dari suami karena ia mendapat penempatan kerja di New York, Amerika York dan Jakarta berjarak lebih dari 16 ribu kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih 22 jam perjalanan. Belum lagi perbedaan waktu 12 jam antara New York dan Jakarta yang membuat jarak saya dan suami terasa begitu Kehamilan Pertama Jauh dari SuamiFoto Pengalaman Kehamilan Pertama_LDR dengan Suami dan Berjuang Mendapatkan Orami/Lusia NSSaya dan suami menikah pada Oktober 2017. Jauh sebelum menikah, kami tahu ada risiko long distance marriage LDM dalam pernikahan kami mengingat suami memang bekerja sebagai diplomat di Kementerian Luar diplomat, dia bisa kapan saja ditugaskan di perwakilan Republik Indonesia di luar negeri. Sebagai istri yang juga bekerja, saya harus siap ditinggal suami tugas untuk waktu yang tidak saja, lima bulan setelah menikah, tepatnya pada Maret 2018, suami harus pergi untuk bertugas di luar negeri. Dia mendapat penempatan di New York, Amerika Serikat. Kami pun harus berpisah untuk sementara Mei 2018, saya mengunjungi suami di New York. Setelah satu bulan pulang dari mengunjungi suami, kira-kira di bulan Juni 2018, saya mendapat kejutan yang tidak kunjung datang dan mual yang kerap saya rasakan berbuah manis. Ketika melakukan tes kehamilan dengan test pack, dua garis merah lah yang ini menjadi kabar yang sangat membahagiakan bagi saya dan suami. Buah cinta yang menjadi harapan setiap pasangan suami istri hadir satu sisi, saya dan suami begitu berbahagia. Namun, di sisi lain ini menjadi pikiran untuk kami karena saya harus menjalani kehamilan pertama ini dengan kondisi terpisah jauh dari suami. Bukan hanya saya yang merasa ini adalah sesuatu yang berat. Suami pun merasakan hal yang tidak, dia harus berada jauh dari istri dan calon anaknya. Namun, apa mau dikata. Sebagai abdi negara, dia tentu harus menjalani tugasnya meskipun terpaksa harus jauh dari awal menikah, sebelum suami berangkat untuk penempatan, kami memang sudah berdiskusi agar saya tidak resign atau cuti di luar tanggungan negara selama tiga tahun dengan status saya sebagai ASN ketika suami ditempatkan di luar di luar tanggungan negara adalah izin panjang bisa diajukan oleh ASN dengan catatan tidak memperoleh hak keuangan sama sekali. Di luar itu, masih ada opsi lain, saya menyusul suami dengan cara melanjutkan pendidikan di kota tempat suami berdinas. Saya tidak harus resign atau cuti di luar tanggungan negara. Saya juga bisa melanjutkan pendidikan dan tentunya tetap dekat dengan pun sepakat agar saya mencoba untuk melanjutkan pendidikan S2 di New York sembari mendampingi suami di sana. Opsi ini pun tidak mudah dijalani, karena saya harus menjalani proses ini seorang diri, sementara suami saya sudah harus berangkat ke New York. Semua terasa makin berat ketika saya dinyatakan jauh dari suami, dan harus menyiapkan berbagai hal untuk melanjutkan mendidikan di New York. Semuanya betul-betul tidak menjalani trimester pertama kehamilan, saya mencoba mendaftar beberapa kampus di New York dan beberapa program Tuhan, karena dari awal memang suami saya mendukung penuh opsi ini, sehingga meskipun terpisah jauh, suami juga sangat membantu saya. Baik dalam memberikan semangat maupun membantu mengoreksi esai Juga Serunya Drama Hamil Kembar saat Si Sulung Masih BatitaPerjuangan Mencari Beasiswa ke New YorkFoto WhatsApp Image 2019-07-22 at 1.jpeg Melanjutkan pendidikan di luar negeri bukan hal mudah, terlebih untuk saya yang ingin mengambil beasiswa karena tidak mungkin saya kuliah dengan biaya sendiri. Biayanya begitu saya harus mengurus administrasi pendaftaran kampus, mulai dari mengambil tes TOEFL iBT, meminta surat rekomendasi dari dosen dan atasan saya, sampai harus menyusun esai. Saya juga harus mencari pertama mencoba mendaftar, kegagalan pun sudah saya rasakan. Ketika mencoba mendaftar di salah satu program beasiswa, yaitu Fulbright AMINEF, saya dinyatakan tidak lolos di seleksi saya, pengalaman kegagalan ini sangat menyedihkan, apa lagi tidak lolos di seleksi administrasi. Ibarat baru akan memulai peperangan sudah kalah telak. Mungkin kalau saya gagal di seleksi wawancara, saya akan lebih menerima, karena saya bisa mengevaluasi performa pengumuman penerimaan mahasiswa baru dari kampus-kampus yang saya daftar pun sungguh membuat perasaan jadi tidak karuan. Ada kampus yang dari awal sudah mengumumkan saya diterima, tapi nama kampus tersebut tidak masuk ke dalam daftar kampus pilihan untuk program beasiswa juga mendaftar di New York University yang memang masuk dalam daftar LPDP. Tapi, pengumuman hasil penerimaan mahasiswa barunya tidak kunjung ada. Saya sempat khawatir karena tidak lama lagi, pendaftaran beasiswa LPDP akan Tuhan, satu minggu sebelum penutupan pendaftaran beasiswa LPDP, saya menerima email dari New York University bahwa saya diterima di program MA in Global Affairs. Kebahagiaan saya tidak bisa diungkapkan dengan saya tidak sampai di situ. Setelah mendaptkan letter of acceptance LoA dari New York University, saya masih harus berjuang untuk mengikuti seleksi beasiswa LPDP. Tanpa beasiswa itu, saya tetap tidak bisa berkuliah di seleksi beasiswa LPDP pun tidak mudah. Belajar dari pengalaman saya gagal di seleksi administrasi Fulbright, saya berusaha tidak menyepelekan seleksi tidak kembali gagal di seleksi administrasi, saya benar-benar memastikan kelengkapan dokumen serta menyusun esai dan rencana studi yang dinyatakan lolos seleksi administrasi, saya masih harus melalui seleksi substansi dan seleksi wawancara. Pada tahapan tersebut, saya harus benar-benar menyiapkan diri dengan kondisi hamil, tentunya untuk bisa belajar serius menjadi salah satu hal yang menantang. Setiap terbangun tengah malam entah karena lapar ataupun ingin buang air kecil, saya sempatkan membaca dan belajar sebelum tidur selisih waktu antara Jakarta dan New York 12 jam, sehingga setiap saya terbangun tengah malam, suami bisa menemani saya belajar melalui video call. Belum lagi lokasi tes yang jauh dan untuk mobilitas sendiri saya hanya mengandalkan taksi online karena tidak ada yang bisa saja jalani dengan ikhlas dan penuh tekad demi bisa berkumpul dengan suami di New tidak akan pernah mengkhianati usaha. Perjuangan mempersiapkan beasiswa dengan kondisi hamil dan jauh dari suami berbuah manis. Saya dinyatakan lulus semua tahapan seleksi beasiswa ternyata ini bukan akhir dari perjuangan. Masih ada tahapan lain yang harus saya lalui dengan kondisi kehamilan yang semakin dinyatakan lulus semua tahapan seleksi beasiswa, saya pun harus mengikuti orientasi di Depok. Masa orientasi itu saya jalani ketika usia kehamilan menginjak 36 minggu. Dokter kandungan dan keluarga sudah mewanti-wanti agar saya jangan terlalu Tuhan, teman-teman angkatan saya yang juga mengikuti orientasi sangat perhatian dan membantu saya. kebetulan, ada lima ibu hamil yang mengikuti masa orientasi dan saya yang usia kehamilannya paling sekarang mengingat-ingat pengalaman itu, saya cuma bisa tertawa geli sendiri. Kok bisa ya, saya hamil mandiri banget?Baca Juga Belum Rela Titip Anak di Daycare, Suami Pilih Jadi Bapak Rumah TanggaAfirmasi Positif untuk JaninFoto WhatsApp Image 2019-07-22 at Meskipun harus hidup mandiri dan melalui semua proses yang menyita pikiran dan perasaan, saya selalu berupaya memberikan afirmasi positif kepada janin di dalam malam, bahkan dari awal kehamilan, selalu menyampaikan ke janin bahwa saya bersyukur memilikinya dan kalau bukan karenanya, saya tidak mungkin dapat melalui ini pikiran atau hati sedang gundah, saya selalu mengajak janin untuk berdoa bersama. Yakin bahwa kami bisa melalui semua tantangan malam saya selalu sampaikan ke janin saya, "Halo adek, terima kasih sudah menemani Mama hari ini kerja. Terima kasih adek hari ini kooperatif sekali dan mendukung Mama beraktivitas. Mama bersyukur punya adek. Adek sehat-sehat yah".Setiap membaca pengalaman orang di internet atau mendengar pengalaman teman, masa kehamilan seolah menjadi momok yang dari mual dan muntah, lemas, pusing, susah makan, ngidam yang tidak tersalurkan, dan sebagainya. Tapi tidak bagi saya, karena rasanya saya tidak mengalami itu masih bisa bekerja seperti biasa dan bahkan bisa melalui rangkaian tes beasiswa. Puji Tuhan pengalaman kehamilan ini sangat nyaman dan Juga Ketika Daycare jadi Pilihan Satu-satunya dan Ternyata Memang yang TerbaikSuka Duka Jalani Kehamilan Tanpa SuamiFoto Pengalaman Kehamilan Pertama_LDR dengan Suami dan Berjuang Mendapatkan Orami/Lusia NSMeskipun kehamilan ini sangat nyaman, menyenangkan, dan saya terkesan kuat menjalani semuanya, tapi terkadang ada juga yang membuat saya di masa awal kehamilan, saya baper ketika melihat ibu-ibu lain ditemani suaminya melakukan kontrol kandungan ke solusi mengobati kebaperan saya, akhirnya saya meminta izin ke dokter kandungan untuk melakukan video call dengan suami selama kontrol. Tujuannya tentu saja agar saya tidak merasa hanya itu, setiap kali kontrol, ibu dan mama mertua juga ikut menemani. Bahkan terkadang ada adik ipar saya pun ikut menemani. Keluarga besar memang menyambut gembira kehadiran bayi kecil kami. ini adalah anak pertama kami dan kebetulan akan menjadi cucu pertama dari kedua pihak yang awalnya kontrol sendirian, sekarang tiap kali saya kontrol jadi yang paling ramai. Bayangkan, kontrol ke dokter kandungan ditemani ibu, mertua, kakak ipar, dan sambil video call di ruangan dengan kandungan saya juga menolong dan komunikatif. Terima kasih ya, Dok, karena sudah mengizinkan saya jadi pasien paling heboh setiap kali kontrol!Pada April 2019, bayi kecil kami lahir ke dunia di usia kandungan 38 minggu. Kami memberinya nama Shena. Kini, gadis kecil kami sudah berusia 4 bulan. Kebersamaan selama 38 minggu bersamanya menjalani kehamilan dan melahirkannya ke dunia ini menjadi momen paling berharga dalam hidup kehamilan pertama benar-benar mengajarkan banyak hal kepada saya. Pertama, bahwa hamil dan menjadi seorang ibu bukan suatu hambatan bagi seorang perempuan untuk berkembang menjadi individu yang lebih saya belajar bahwa pengalaman kehamilan adalah pengalaman pribadi setiap ibu yang tidak mungkin dibandingkan dengan pengalaman ibu sering mendapat pujian bahwa saat hamil saya sangat kuat dan mandiri. Tapi bagi saya pribadi, saya tidak mau membandingkan pengalaman kehamilan saya dengan ibu saya belajar betapa pentingnya support system yang solid bagi ibu baru. Saya tidak mungkin dapat melalui ini semua tanpa dukungan dan bantuan suami, keluarga, dokter kandungan, rekan-rekan saya, dan tentunya juga janin saya belajar tentang cinta yang tulus dari seorang Ibu. Saya takjub betapa saya sangat mencintai bayi kecil yang ada dalam kandungan ini meskipun kami belum pernah bertemu. Setiap hari rasanya selalu jatuh cinta pada bayi kecil Juga Barang Preloved untuk Si Kecil? Enggak Masalah!Satu lagi, saya mohon doanya ya, Moms, September 2019 ini saya akan memulai kuliah di New York University dan mengajak anak ke New York juga. Semoga saya dapat melanjutkan pendidikan selama dua tahun dengan lancar sekaligus dapat membesarkan anak saya dengan cerita kehamilan saya yang penuh warna. Bagaimana cerita kehamilan Moms?Copyright © 2023 Orami. All rights reserved.

mendampingi suami kuliah di luar negeri