Sayapanjatkan puji kepada Allah Yang Maha Suci atas karunia nikmat-Nya yang tidak terhingga dan tidak terbilang banyaknya. Saya panjatkan rasa syukur kepada-Nya, karena dengan syukur itu Allah akan menambah nikmat-Nya. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa. Padahari raya Idul Adha ini, meski kita semua berada dalam kondisi dan situasi yang kurang mengenakkan karena pandemi, tapi dengan segala rasa syukur kepada Allah subhanahu wata'ala kita masih diberi kesehatan dan keselamatan, sehingga kita dapat berusaha menggunakan kesempatan ini untuk menunaikan kewajiban-kewajiban kita sebagai seorang Muslim. Khutbahkedua: اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. KumpulanKhutbah Idul Adha Terfavorit. Kumpulan Khutbah Idul Adha Terfavorit. Home; Khutbah | Kam, 31 Agu 2017; Khutbah Idul Adha: Meneguhkan Totalitas Kepatuhan kepada Allah melalui Kurban Khutbah Idul Adha: Tiga Pelajaran Utama Hari Raya Kurban. Khutbah | Jum, 9 Sep 2016; Khutbah Idul Adha: Spirit Berkurban dan Kepedulian Sosial downloadmateri khutbah idul adha terbaru, baiklah pemirsa blog ini akan saya bagikan tentang materi khutbah idul adha atau naskah khutbah hari raya kurban, sebentar lagi kita akan melaksanakan solat idul adha 1438 h, bagi kalian yang kedapatan tugas untuk khutbah dan ingin memiliki materi yang bagus berikut saya Tekstulisan hari raya idul adha 2022. Teks Khutbah Hari Raya AidiladhaHaji 2021. Selain 10 Muharram puasa juga masih dianjurkan pada hari-hari lain di bulan ini. Khutbah jumat sambut Hari Kemerdekaan Indonesia ke-77 adalah isi khutbah Jumat yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Hari Raya Aidilfitri 2018 Syawal 1439H SeriesVideo 1 of p28XLHO. Idul Qurban Allahu Akbar 3x wa lillahil hamd Hadirin yang berbahagia, Khatib tidak pernah bosan untuk terus berwasiat agar kita semua dapat senantiasa meningkatkan taqwa kepada Allah Sebaliknya, Khatib juga berharap hadirin tidak pernah bosan mendengar seruan taqwa, lebih-lebih dalam menerapkannya di kehidupan sehari-hari. Hari ini adalah hari raya kedua di tahun 1428 H ini. Manisnya Idul fitri sudah kita rasakan bersama. Kini saatnya keharuan Idul Adha menusuk relung hati kita yang terdalam. Syukur kepada Allah yang mempertemukan kita kembali dengan hari yang diberkahi ini. Untaian takbir dan tahmid yang mengiringi hari besar ini tak jarang membuat kita menangis tersedu-sedu. Tentu saja menangis bukan karena cengeng, melainkan menangis karena kita sadar bahwa betapa kecil dan lemahnya kita disandingkan dengan Allah yang Akbar. Allahu Akbar 3x wa lillahil hamd Hadirin, hari raya Idhul Adha yang juga biasa disebut hari raya kurban memiliki dasar argumentasi yang qath’iy dan akar kesejarahan yang sangat kuat. Allah berfirman “Sesungguhnya, Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah Shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah,” al-Kautsar1- 2 Sayyid Quthb dalam tafsirnya fi Dzilalil Qur’an menjelaskan bahwa setelah diberi penegasan ayat pertama tentang pemberian nikmat yang melimpah ruah dari Allah, Ayat kedua ini adalah bentuk kesyukuran yang merupakan hak pertama Allah. Dalam arti, hak keikhlasan dan memurnikan ibadah hanya tertuju kepada-Nya dengan menunaikan shalat dan menyembelih kurban karena-Nya. Sayyid Quthb menambahkan, bahwa ajaran berkurban menunjukkan perhatian agama Islam yang sangat besar untuk membersihkan pandangan hidup dan hati nurani dari penyakit syirik dan bekas-bekasnya. Hal itu misalnya, tercermin dari praktik berkurban yang tidak membolehkan menyembelih binatang kurban tanpa menyebut nama Allah. Islam adalah agama tauhid yang tulus, murni dan jelas. Tauhid adalah hak Allah yang paling asasi. Oleh karena itu, Islam berusaha memberantas segala bentuk kemusyrikan dengan segala simbolnya, di manapun berada. Baik yang ada di dalam hati, yang merayap dalam tradisi, lebih-lebih yang tampak dalam peribadatan. Allahu Akbar 3x Hadirin yang dirahmati Allah, selain memiliki dimensi purifikasi tauhid, dilihat dari aspek sejarahnya, seremoni berkurban juga mencerminkan prinsip hidup yang mulia. Simak saja cerita tentang perintah Allah kepada Ibrahim untuk menyembelih putranya, yang menjadi inspirasi disyari’atkannya berkurban. Allah berfirman “Maka tatkala ia Isma’il telah mencapai usia berusaha bersamanya, Ibrahim berkata Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu?’ ia Ismail menjawab Hai Bapakku, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; engkau akan mendapatiku, insya Allah termasuk para penyabar.’ QS. Ash-Shaffat; 37 Terlepas dari siapakah putra Ibrahim yang hendak disembelih, Ismail atau Ishaq, ayat ini menggambarkan keikhlasan seorang Bapak dan Anak yang berkadar luar biasa. Ibrahim yang baru memiliki putra, setelah sekian lama tidak dikaruniai seorang anak, tanpa berfikir panjang mentaati perintah Allah meskipun hanya disampaikan dalam bentuk mimpi. Demikian juga putranya, tanpa berdebat panjang ia langsung menyanggupi apa yang diisyaratkan oleh Allah melalui mimpi ayahnya. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh orang yang bernar-benar mukhlis seutuhnya. Untuk menjadi orang mukhlis seutuhnya, menurut khatib, kita tidak perlu menunggu menjadi Nabi terlebih dahulu seperti Ibrahim. Khatib yakin, Ibrahim dan putranya dapat melakukan hal itu bukan karena status kenabiannya, lebih dari itu, karena memang mereka merasakan kedekatan dengan Allah dan mampu menahan hawa nafsunya. Prof. Hamka dalam tafsirnya al-Azhar misalnya, ia menyebutkan, sejatinya hati Ibrahim ketika itu bertempur di antara dua cinta, yakni cinta kepada Allah dan cinta kepada anaknya. Dan akhirnya ia memenangkan cintanya kepada Allah. Usaha dan proses untuk mendekatkan diri kepada Allah inilah yang kemudian disebut sebagai qurban/kurban, yang merupakan bentuk mashdar dari kata kerja qa ru ba yang berarti mendekat. Dalam konteks cerita Ibrahim dan kurban yang dilakukan dengan menyembelih binatang, titik tekannya bukan pada binatang sembelihan yang dikurbankan untuk Allah. Tapi kerelaan menjalankan perintah Allah dengan memberikan sesuatu yang paling dicintai itulah makna sesungguhnya berkurban. Oleh karena itu, dalam arti luas, orang yang mampu dan mau mendermakan sesuatu yang sangat dicintainya demi Allah, maka sesungguhnya ia telah berkurban. Allahu Akbar 3x Hadirin rahimakumullah, pada zaman Nabi Ibrahim hidup, hampir seluruh bangsa di dunia, masyarakatnya rela mempersembahkan nyawa manusia untuk Tuhan yang disembah. Di Mesir misalnya, gadis cantik dipersembahkan untuk Dewa sungai Nil. Di Irak, bayi dikurbankan untuk Dewa Baal. Sementara bangsa Viking, selalu mempersembahkan Kyai’ atau tokoh agamanya untuk Dewa Odion dewa perang. Menurut Prof. Dr. Quraisy Shihab, perintah Allah kepada Ibrahim untuk menyembelih putranya yang kemudian dibatalkan, menunjukkan bahwa jiwa manusia tidak boleh dijadikan sebagai sesaji kepada-Nya. Hal itu karena kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya, sehingga Dia melarang persembahan manusia sebagai korban . Selain itu, cerita Ibrahim dan putranya tersebut hendaknya menyadarkan kita untuk tidak takut mati dalam memperjuangkan sesuatu yang diyakini benar. Kalaupun perintah itu tidak dibatalkan, Ibrahim tidak akan rapuh melihat kematian putranya. Apalagi putranya yang sudah sejak awal justru berserah diri dan ikhlas kalaupun disembelih. Hal itu semata-mata dilakukan karena mereka meyakini kebesaran Allah dan kebenaran perintah-Nya. Kematian adalah sesuatu yang niscaya. Sepintar dan segesit apapun kita berusaha menghindarinya, pada akhirnya akan bertemu juga. Hanya saja, kita mau mati dengan cara bagaimana itu terserah kita, khusnul khatimah atau su’ul khatimah, mati di jalan Allah atau mati di jalan Syaitan. Kematian ibarat rasa lapar dan dahaga yang pada gilirannya akan menghampiri kita. Umat Islam harus berani mati, lebih-lebih mati dalam rangka menjalankan perintah Allah. Hamka pernah mengatakan, kematian yang paling indah adalah kematian karena menjalankan perintah Allah. Allahu Akbar 3x wa lillahil hamd Hadirin yang dimulyakan Allah, lalu Bagaimana dengan diri kita? Sudahkah sebagai orang tua, kita mampu berbuat seperti Ibrahim? Atau sebaliknya, sebagai seorang anak, sejauh mana usaha kita untuk dapat meniru putra Ibrahim? Tidak sepatutnya, kita sebagai orang tua hanya menuntut anak kita berperilaku seperti Ismail, jika perilaku kita sendiri masih mirip Namrudz. Sebaliknya, sebagai seorang anak, tidak etis kita menuntut orang tua menjadi seperti Ibrahim, sementara kita sendiri masih berperilaku seperti Malin Kundang. Bersama mari kita mengoreksi diri masing-masing. Mudah-mudahan, mulai hari ini kita dapat menjadi Ibrahim-Ibrahim baru yang mampu menciptakan kisah yang mengharu biru. Wal akhir, mudah-mudahan kita diberi kesempatan untuk kembali menikmati kesyahduan Idhul Adha tahun mendatang. Alhamdulillahi Rabbil A’lamin. Al-sholatu wa salamu ala Muhammadin wa a’la alihi wa sahbihi ajmain. Menyembelih Hawa Nafsu’ Saat Idul Adha - Pada saat menjelang puncak ibadah haji, momen yang akan ditemui umat Islam adalah Idul Adha. Sementara amalan didalamnya adalah menyembelih hewan atau ber kurban. Bagi sebagian muslim, terkadang mereka hanya antusias dalam merayakan Idul Adha saja tanpa paham mengenai makna, kandungan ataupun manfaat dari hari besar umat Islam itu sendiri. Penasehat DPP Ikatan Sarjana Alumni Dayah ISAD Aceh, Tgk Bustamam Usman SHI MA mengatakan, perintah untuk ber kurban telah disampaikan oleh Allah SWT dalam beberapa ayat Al-Quran yang diturunkan dalam surah yang berbeda-beda. “Salah satu ayat yang menyampaikan pesan kepada umat Islam untuk ber kurban adalah dalam surat Al-Kautsar ayat 2, “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan ber kurbanlah sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah’,” ujarnya. Sementara dalam surah Al-Maidah ayat 27, Allah menurunkan wahyu tentang kurban yang dilakukan putra Adam, Qabil dan Habil. Sedangkan dalam surah As-Saffat ayat 102 berisi tentang Nabi Ibrahim yang bermimpi mendapat perintah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail. Baca juga Puasa Arafah Sebelum Hari Raya Idul Adha, Kapan Puasa Dimulai? Ini Penjelasannya Menurut Tgk Bustamam, untuk menjadi hewan kurban seperti domba setidaknya harus berusia lebih dari satu tahun. Bisa juga dijadikan hewan kurban saat domba sudah berganti giginya. Sedangkan kambing minimal harus berusia lebih dari dua tahun. “Sapi dan kerbau juga harus mempunyai usia lebih dari dua tahun untuk menjadi hewan kurban. Yang ingin ber kurban unta harus memastikan usia hewan berpunuk tersebut telah lebih dari lima tahun,” jelasnya. Selain dari usia dan jenisnya, hewan kurban juga harus dalam kondisi sehat dan tidak cacat. Sebelum membeli, pastikan dulu hewan kurban tidak dalam kondisi matanya buta, sakit, kakinya pincang dan terlalu kurus atau gemuk. “Cacat hewan seperti putus telinga atau ekornya juga tidak sah dijadikan hewan kurban. Sebab cacat ini mengakibatkan daging hewan kurban berkurang. Untuk hewan yang dikebiri dan pecah tanduknya termasuk cacat yang tidak menghalangi sahnya ibadah kurban,” jelas Tgk Bustamam. Hal ini, kata dia, disebabkan karena pecah tanduk dan kebiri tak mengakibatkan dagingnya berkurang. Disamping Idul Adha. Oleh karena itu, bagi umat muslim yang belum mampu mengerjakan perjalanan haji, maka ia diberi kesempatan untuk ber kurban, yaitu dengan menyembelih hewan qurban sebagai simbol ketakwaan dan kecintaan kepada Allah SWT. Selain itu, Idul Adha juga berarti menyembelih “ hawa nafsu”. Lalu apa hubungannya Hari Raya Idul Adha dengan menyembelih hawa nafsu? Kata Tgk Bustamam, Adha’ sendiri memiliki makna penyembelihan. Tidak hanya menyembelih hewan kurban, tetapi juga menyembelih sesuatu yang buruk dari diri sendiri. Dalam surah Al-A’raaf ayat 179, disebutkan bahwa manusia memiliki sifat seperti binatang ternak. Hal ini dapat dilihat dari hawa nafsu yang dimiliki manusia. Sehingga hal tersebut patut disembelih layaknya menyembelih hewan ternak. Berikut contoh naskah khutbah Jumat minggu ketiga bulan Dzulqa'dah tentang ber kurban yang menyentuh dan inspiratif. Sebentar lagi umat islam akan menyambut hari raya Idul Adha yang sangat erat dengan aktivitas ber kurban Dalam menyambut Idul Adha, naskah khutbah Jumat tentang qurban ini bisa menjadi referensi bahan ceramah. Sebelum melaksanakan Sholat Jumat, para jemaah terlebih dahulu mendengarkan khutbah Jumat yang memiliki pesan dan imbauan untuk berbuat kebaikan. Dalam artikel ini, terdapat contoh naskah khutbah Jumat singkat mengenai berkuban. Adapun naskah khutbah Jumat bertema tentang ber kurban, singkat dan inspiratif, tersedia juga dalam bentuk PDF yang dapat di unduh melalui link dibawah ini. PDF Materi Khutbah Jumat Dzulqa'dah >>> Klik Disini Baca juga Khutbah Jumat 9 Juni 2023 Sucikan Hati Dengan Melaksanakan Ibadah Haji Judul Khutbah Jum'at "Mari Berkorban dengan Ber kurban" الْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْاٰنِ وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا. وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا Maasyiral Muslimin rahimakumullah, Tidak bosan-bosannya khatib mengajak kepada seluruh jamaah, mari kita senantiasa meningkatkan dan menguatkan ketakwaan kita kepada Allah swt. Barometer dari ketakwaan adalah kemampuan kita untuk sekuat tenaga menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala yang dilarang oleh-Nya. Posisi kita berada di jalan yang telah digariskan oleh Allah swt, dengan tidak belok ke kanan dan ke kiri ini, akan menjadikan kita pada posisi tengah dan kuat sehingga mampu menghantarkan kita pada tujuan yang benar dan hakiki dalam kehidupan di dunia. Ketakwaan ini juga yang telah ditegaskan oleh Allah swt sebagai bekal yang paling baik dalam menjalani kehidupan. Allah berfirman وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ Artinya “Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!”. QS al-Baqarah 197 Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Pada kesempatan khutbah kali ini, khatib mengajak kita semua untuk kembali merenungkan nikmat-nikmat dan rezeki yang telah dianugerahkan oleh Allah swt dalam kehidupan. Segala nikmat ini adalah nyata adanya dan telah ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Kautsar ayat 1 اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَر Artinya “Sungguh, Kami telah memberimu Muhammad nikmat yang banyak.” Nikmat yang telah diberikan ini tidak boleh menjadikan kita lupa sehingga jauh dari Allah swt. Sebaliknya, nikmat ini harus mampu dijadikan sebagai sarana untuk beribadah dan membawa kita lebih dekat kepada Allah swt. Lalu bagaimana kita mendekatkan diri kepada Allah? Pertanyaan ini dijawab di ayat selanjutnya yakni ayat kedua surat Al-Kautsar فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ Artinya “Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan ber kurbanlah sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah.”. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Jelas dalam ayat ini, Allah memerintahkan kita untuk terus mendekatkan diri kepada-Nya dengan dua bentuk ibadah. Pertama adalah shalat yang memang sudah menjadi kewajiban dan rutinitas harian kita dengan melaksanakannya lima waktu setiap hari, yakni Shubuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Kedua adalah dengan ber kurban yang merupakan ibadah tahunan dan hanya bisa dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah. Pada bulan Dzulhijjah ini kita diperintahkan untuk menyembelih hewan kurban di Hari Raya Haji atau Idul Adha pada tanggal 10 Dzuhijjah atau tiga Hari Tasyriq, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijjah. Dari sisi bahasanya sendiri, kurban berasal dari bahasa Arab, yakni qaruba – yaqrubu – qurban yang artinya dekat. Untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui kurban, kita dituntut berkorban menyisihkan harta kita untuk membeli hewan kurban dan memberikannya kepada orang lain. Tentu kita harus benar-benar ikhlas dan menata hati dengan benar dalam berkorban dengan ber kurban ini. Jangan sampai pengorbanan kita dengan mengambil harta yang kita miliki tidak membuahkan hasil dan jauh dari hakikat ibadah kurban itu sendiri yakni mendekatkan diri pada Allah. Jangan sampai kita salah niat, sehingga kita malah akan semakin jauh dari Allah karena niatan yang salah seperti ingin dipuji orang dan niatan-niatan lainnya yang tidak lillahi ta’ala. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Menyembelih hewan kurban menurut Imam Malik dan Imam al-Syafi’i adalah kesunnahan yang diutamakan atau sunnah muakkadah. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa ibadah kurban adalah wajib bagi penduduk yang mampu dan tidak dalam keadaan bepergian. Nabi Muhammad saw pun telah memberi contoh dengan tidak pernah meninggalkan ibadah kurban sejak disyariatkannya sampai beliau wafat. Sebagai sebuah kesunnahan yang ditekankan dan rutin dilakukan oleh Nabi Muhammad, ibadah kurban memiliki keutamaan tersendiri sebagaimana haditst Nabi dari Siti Aisyah yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنْ الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا Artinya “Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam manusia pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya.” Keutamaan lain dari ibadah kurban adalah sebuah ibadah yang memiliki dua dimensi, yakni vertikal dan horizontal. Dimensi vertikal artinya ibadah yang ditujukan hanya kepada Allah swt, sementara dimensi horizontal adalah ibadah sosial berupa berbagi rezeki untuk membahagiakan orang lain. Ketika kita mampu membahagiakan orang lain, maka kita pun akan merasa bahagia dan pada akhirnya kebahagiaan bersama juga akan mudah terwujud sehingga kehidupan di tengah-tengah masyarakat pun akan bahagia dan damai. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Dengan agungnya makna dan tujuan dari ibadah kurban ini, maka sudah selayaknya kita berusaha untuk dapat melaksanakannya sehingga kita akan semakin dekat kepada Allah. Tentu kita tidak ingin menjadi hamba yang kufur nikmat dan terputus rahmat Allah karena kita tidak ber kurban padahal sebenarnya kita mampu. Mari kita bersama-sama menjadi hamba yang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dengan menjalankan perintah-perintahnya. Jangan sampai kita pada kondisi yang disebutkan dalam surat Al-Kautsar ayat 3 اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ Artinya "Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus dari rahmat Allah." أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ *** Artikel ini telah tayang di - Dalam khutbah Idul Adha yang disampaikan setelah shalat hari raya Idul Adha, kita dapat mendengarkan kembali kisah sejarah kurban dalam tradisi Islam. Itu adalah salah satu contoh khutbah Idul Adha 2023 yang umum dibacakan kembali. Jika kamu sedang membutuhkan referensi atau contoh khutbah Idul Adha untuk disampaikan kepada umat Islam di hari raya Idul Adha 2023 nanti, informasi di bawah ini mungkin dapat membantu. Idul Adha, adalah hari di mana umat Islam di seluruh dunia mengorbankan hewan. Ratusan ribu hewan dikorbankan pada kesempatan hari raya haji ini. Dengan begitu banyak daging, yang lalu didistribusikan kepada orang miskin. Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya dan memohon pertolongan-Nya, kita mencari bimbingan-Nya, kita memohon pengampunan-Nya, dan kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita sendiri dan tindakan berdosa kita. Barangsiapa Allah membimbing, tidak ada yang bisa menyesatkan dan siapa pun yang Dia sesatkan, tidak akan menemukan satu pun untuk membimbingnya dengan benar. Baca Juga Idul Adha Makin Dekat, Simak Rincian Harga Kambing dan Sapi Kurban 2023 Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Dia adalah Satu dan tidak memiliki pasangan. Dia memberi kehidupan dan menyebabkan kematian dan Dia memiliki kuasa atas semua yang ada. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang terbaik dari ciptaan-Nya, dan yang paling dicintai-Nya. Dia menyampaikan pesan, memenuhi kepercayaan, menasihati bangsa, menghapus kegelapan darinya, dan berjuang di jalan agama sampai kematiannya. Semoga berkah dan damai Allah besertanya, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang telah menapaki jalan keunggulannya dan mengikuti bimbingannya sampai Hari Penghakiman. Muslim yang terkasih, Allah Ta'ala berfirman kepada orang-orang beriman [Hari ini Aku telah menyempurnakan agama Anda untuk Anda, menyelesaikan nikmat-Ku atas Anda, dan telah memilih untuk Anda Islam sebagai agama Anda] Al-Ma'idah 5 3. Ya, nikmat Allah kepada kita banyak dan tidak dapat dihitung. Yang terbesar di antara mereka adalah bahwa Dia telah membimbing kita kepada Islam. Jika Dia tidak membimbing kita kepada Islam, kita tidak akan dibimbing. Allah menciptakan kita untuk menyembah-Nya sepanjang tahun dan pada hari-hari khusus dan hari libur. Dia melipatgandakan pahala perbuatan baik kita. Oleh karena itu, hari raya Idul Fitri datang setelah bulan puasa Ramadhan, dan Idul Adha datang setelah haji dan hari Arafah. Ini adalah hari ketika Allah mengampuni banyak dosa hamba-hamba-Nya. Idul Fitri dalam Islam bukanlah buatan manusia; Allah-lah yang menciptakannya. Dia juga menetapkan aturan dan etiket khusus yang harus diikuti selama hari raya. Muslim seharusnya tidak melanggar hukum-hukum Allah. Baca Juga Resep Garang Asem Non Santan Olahan Ayam Kampung, Cocok Jadi Menu Makanan Idul Adha Muslim yang terkasih, kita bertemu di sini pagi ini untuk berdoa dan mendengarkan khotbah ini. Kita telah berkumpul bersama di satu tempat untuk menyembah Allah Ta'ala - meskipun kita memiliki tradisi yang berbeda, berbicara bahasa yang berbeda, dan memiliki warna yang berbeda. Inilah sebabnya mengapa Dia menahbiskan dalam agama ini segala sesuatu yang memperkuat ikatan cinta dan harmoni. Dia bahkan memperingatkan kita terhadap apa pun yang dapat memisahkan hati orang percaya. Allah berkata "Orang-orang beriman tidak lain adalah saudara" Al-Hujurat 4910. Dia juga mengatakan, berbicara kepada Nabi Muhammad damai dan berkah besertanya [Jika Anda telah menghabiskan semua yang ada di bumi, Anda tidak bisa menyatukan hati mereka, tetapi Allah telah menyatukan mereka] Al-Anfal 863. Saudara dan saudari terkasih, juga sangat dianjurkan bagi umat Islam untuk saling menyapa pada hari raya Idul Adha, seperti yang biasa dilakukan oleh para sahabat Nabi Muhammad damai dan berkah besertanya dan berkata "Semoga Allah menerima dari kita perbuatan baik kita." Akhirnya, saya berharap hari ini akan menjadi hari yang baik bagi kita semua dan bagi semua Muslim di seluruh dunia. Kami berdoa kepada Allah untuk menyelamatkan umat Islam dari musuh-musuh mereka dan dari bahaya di sekitar mereka. Kita memohon kepada Allah untuk menerima perbuatan baik kita, mengampuni kesalahan dan kekeliruan kita, dan memohon kepada-Nya untuk menjaga kita di jalan yang lurus. Kami memohon kepada-Nya untuk memberi kami kekuatan untuk menjadi contoh Islam yang baik seperti Nabi damai dan berkah besertanya dan para sahabatnya. Semoga Allah membawa hari ini setiap tahun saat Anda dalam keadaan sehat dan sehat. Damai, rahmat, dan berkah dari Allah atas Anda semua. Demikian itu, susunan contoh khutbah Idul Adha yang mungkin dapat diterima oleh semua kalangan. Semoga dapat menginspirasi Anda. Kontributor Mutaya Saroh Khutbah Kam, 7 Jul 2022 Khutbah Sen, 4 Jul 2022 Khutbah Sen, 19 Jul 2021 Khutbah Sen, 19 Jul 2021 Khutbah Ahad, 18 Jul 2021 Khutbah Ahad, 18 Jul 2021 Khutbah Ahad, 18 Jul 2021 Khutbah Kam, 8 Jul 2021 Khutbah Rab, 7 Jul 2021 Khutbah Sen, 5 Jul 2021 Khutbah Kam, 30 Jul 2020 Khutbah Kam, 30 Jul 2020 Khutbah Kam, 30 Jul 2020 Khutbah Sel, 28 Jul 2020 Khutbah Ahad, 26 Jul 2020 Khutbah Rab, 8 Jul 2020 Khutbah Sab, 10 Agu 2019 Khutbah Jum, 9 Agu 2019 Khutbah Sel, 21 Agu 2018 Khutbah Sen, 20 Agu 2018 Khutbah Sab, 18 Agu 2018 Khutbah Kam, 31 Agu 2017 Khutbah Kam, 31 Agu 2017 Khutbah Ahad, 27 Agu 2017 Nasional Sel, 13 Sep 2016 Khutbah Ahad, 11 Sep 2016 Khutbah Jum, 9 Sep 2016 Khutbah Rab, 7 Sep 2016 Khutbah Rab, 23 Sep 2015 Khutbah Rab, 23 Sep 2015 Khutbah Sen, 14 Okt 2013 Khutbah Rab, 25 Nov 2009 Khutbah Jum, 14 Des 2007

khutbah hari raya idul adha 2017